Payung Ibu
Setiap musim hujan, payung hitam bergagang kayu itu kembali ke tangan Ratih — bersama semua hal yang tak sempat ia ucapkan kepada ibunya.
Rubrik
Cerpen, puisi, esai sastra, dan cerita bersambung dari penulis lintas generasi.
Setiap musim hujan, payung hitam bergagang kayu itu kembali ke tangan Ratih — bersama semua hal yang tak sempat ia ucapkan kepada ibunya.
Sebuah puisi tentang kota yang mengenal namamu dari bunyi atap seng.
Tentang bahasa pertama yang tidak diajarkan di kelas mana pun.
Di laci meja tukang pos yang hampir pensiun, tersimpan satu amplop tanpa perangko yang ia tulis sendiri empat puluh tahun lalu.
Pagi para pelaju, dicatat dari peron yang masih mengantuk.
Bianglala tua itu berputar terakhir kalinya sebelum lapangan dijual. Tiga sahabat kecil berjanji naik sampai puncak — dan menghitung bintang.
Semoga setiap halaman menemukan pembacanya yang kedua.