Mode demonstrasi: konten bertanda “Contoh” adalah data rekaan, bukan karya penulis nyata.
Cerpen Contoh

Payung Ibu

Setiap musim hujan, payung hitam bergagang kayu itu kembali ke tangan Ratih — bersama semua hal yang tak sempat ia ucapkan kepada ibunya.

Tulisan ini adalah konten demonstrasi untuk menguji tampilan, bukan karya penulis nyata.

Payung itu tidak pernah benar-benar rusak. Jarinya saja yang berkarat di satu sisi, membuat kainnya selalu miring ke kiri seperti orang yang terlalu lama menunggu. Ibu membelinya di pasar dekat stasiun, tahun ketika Ratih masuk sekolah dasar, dan sejak itu payung tersebut menjadi semacam anggota keluarga yang tidak ikut makan malam.

"Payung yang baik itu bukan yang paling mahal," kata Ibu suatu sore, sambil mengibaskan air dari kainnya di teras. "Payung yang baik itu yang selalu ingat jalan pulang."

Ratih kecil tertawa. Ia mengira payung tidak bisa mengingat apa pun. Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika ia pindah ke kota lain untuk bekerja dan meninggalkan payung itu di balik pintu, ia sering bermimpi tentang gagang kayu yang licin karena digenggam terlalu lama.

Musim yang Tertunda

Kabar itu datang lewat pesan singkat dari tetangga: Ibu dirawat. Ratih pulang dengan kereta paling pagi. Hujan turun sejak stasiun pertama dan tidak berhenti sampai ia tiba. Di teras rumah, payung hitam itu masih bersandar di tempat yang sama, seolah tak pernah ada yang pergi.

Ia membawanya ke rumah sakit. Ibu tersenyum melihatnya, lebih lebar daripada ketika melihat Ratih. "Kau bawa juga," katanya pelan. "Berarti dia masih ingat jalan."

Ada benda yang kita simpan bukan karena berguna, melainkan karena ia menyimpan kita.

Malam itu Ratih duduk di samping ranjang dan, untuk pertama kalinya, bercerita tentang kantornya, tentang kamar sewaan yang sempit, tentang betapa ia takut pulang terlambat. Ibu mendengarkan dengan mata setengah terpejam. Di luar, hujan berubah menjadi gerimis, lalu diam.

Pagi berikutnya, ketika Ratih berjalan ke warung untuk membeli bubur, ia membuka payung itu meski langit sudah cerah. Kainnya miring ke kiri, seperti biasa. Ia membiarkannya. Ada hal-hal yang memang tidak perlu diluruskan.

← Kembali ke Cerpen

Tulisan Terkait