Mode demonstrasi: konten bertanda “Contoh” adalah data rekaan, bukan karya penulis nyata.
Cerpen Contoh

Surat yang Tidak Pernah Dikirim

Di laci meja tukang pos yang hampir pensiun, tersimpan satu amplop tanpa perangko yang ia tulis sendiri empat puluh tahun lalu.

Tulisan ini adalah konten demonstrasi untuk menguji tampilan, bukan karya penulis nyata.

Pak Darsa sudah mengantar surat selama tiga puluh delapan tahun. Ia hafal setiap gang di kecamatannya, setiap anjing yang menggonggong, dan setiap rumah yang dulu ramai menerima kabar lalu perlahan sepi karena orang-orang beralih ke telepon genggam.

Dua minggu sebelum pensiun, ia membersihkan laci mejanya di kantor pos. Di bawah tumpukan formulir lama, ia menemukan amplop krem yang sudah menguning. Tulisan di depannya adalah tulisannya sendiri, ketika tangannya masih tegak: untuk Sumirah, di desa seberang sungai.

Ia tidak pernah mengirimnya. Waktu itu ia merasa kalimatnya terlalu berani, terlalu panjang, terlalu jujur. Lalu Sumirah menikah dan pindah, dan surat itu menjadi benda yang tidak tahu harus pergi ke mana.

Pada hari terakhirnya bekerja, Pak Darsa menempelkan perangko, menulis alamat baru yang ia peroleh dari kerabat jauh, lalu memasukkannya ke kotak surat di depan kantor. Ia tidak berharap balasan. Ia hanya ingin satu surat dalam hidupnya sampai ke tujuan yang semestinya.

Sebulan kemudian, sebuah kartu pos tiba di rumahnya. Hanya satu kalimat, dengan tulisan tangan yang gemetar: "Terima kasih sudah tidak lupa."

← Kembali ke Cerpen

Tulisan Terkait