Pasar Malam di Ujung Kampung
Bianglala tua itu berputar terakhir kalinya sebelum lapangan dijual. Tiga sahabat kecil berjanji naik sampai puncak — dan menghitung bintang.
Lampu-lampu pasar malam menyala satu per satu, kuning dan merah, seperti buah yang masak sekaligus. Dimas, Yuni, dan Ucok berdiri di depan bianglala dengan tiket yang mereka beli dari tabungan seminggu.
Kabarnya, ini pasar malam terakhir. Lapangan di ujung kampung akan dipagari dan dibangun gudang. Orang dewasa membicarakannya sambil menghela napas; anak-anak membicarakannya sambil menghitung berapa kali lagi mereka bisa naik.
Di puncak putaran, kursi mereka berhenti sejenak. Kampung terlihat kecil, atap-atapnya berkilau sisa hujan. "Kita hitung bintang," kata Yuni. Mereka sampai di angka dua puluh tujuh sebelum bianglala bergerak turun.
Bertahun-tahun kemudian, ketiganya tinggal di kota yang berbeda. Tetapi setiap kali salah satu dari mereka melihat langit yang cerah, ia akan mengirim pesan singkat kepada dua yang lain: "Dua puluh delapan."
Tulisan Terkait
Payung Ibu
Setiap musim hujan, payung hitam bergagang kayu itu kembali ke tangan Ratih — bersama semua hal yang tak sempat ia ucapkan kepada ibunya.
Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Di laci meja tukang pos yang hampir pensiun, tersimpan satu amplop tanpa perangko yang ia tulis sendiri empat puluh tahun lalu.