Resensi: Rumah di Tepi Sungai
Novel contoh tentang tiga generasi perempuan dan sungai yang perlahan berubah warna.
Catatan: buku yang diresensi di sini adalah buku rekaan untuk keperluan demonstrasi tampilan, bukan judul yang beredar.
Rumah di Tepi Sungai mengikuti kehidupan nenek, ibu, dan anak perempuan yang tinggal di rumah yang sama selama setengah abad. Sungai di depan rumah menjadi tokoh keempat: jernih pada bab pertama, keruh pada bab terakhir.
Kekuatan dan Kelemahan
Kekuatan novel ini terletak pada detail domestik yang tidak sentimental. Kelemahannya, bagian tengah terlalu panjang dan beberapa konflik diselesaikan tergesa-gesa. Meski demikian, buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang tertarik pada hubungan antara keluarga dan lingkungan.
Tulisan Terkait
Resensi: Sejarah Kecil Kertas
Buku nonfiksi contoh yang mengajak pembaca memperhatikan benda yang paling sering kita abaikan.
Resensi: Arsitektur Gagasan
Panduan menulis argumentatif (buku contoh) yang rapi, meski kadang terlalu kaku.